Belajar filsafat tidak akan terlepas dari sejarah filsafat karena filsafat
memang merentang dari zaman ke zaman. Tidak ada pemikiran zaman sekarang yang
tidak terpengaruh dengan pemikiran zaman dahulu.Kita memerlukan referensi dari
pemikiran para filsuf terdahulu yang terus digunakan hingga saat ini.
Sejarah filsafat pada masa awal dimulai pada era lahirnya gereja di
Eropa yang banyak mendominasi. pemikiran manusia tidak boleh bertentangan
dengan gereja pada masa itu. Namun seiring dengan perkembangan pemikiran, mulai
muncul tokoh-tokoh revolusi yang melahirkan pemikiran yang bertentangan dengan
dengan gereja. Tokohnya adalah Copernicus, Galileo, dsb.
Sebagai cikal bakal filsafat yang paling terkenal adalah filsafat
yunani dengan mitos-mitosnya yang melegenda. Para filsuf pada masa awal, ingin
mengetahui tentang apa yang dilihatnya, misalnya bumi terbuat dari apa,
bagaimana terjadinya pelangi, dsb. Filsafat yang demikian disebut sebagai filsafat
alam.
Pada tahap selanjutnya, para filsuf mulai beralih pada filsafat
hati atau disebut juga dengan filsafat manusia. Mereka mulai
berpikir mengenai teori tentang kebajikan (wisdom). Juga kemudian muncul tren
baru berupa filsafat berpikir yang dipelopori oleh Socrates. Socrates
memperkenalkan metode dialektika , yakni dengan mengumpulkan sumber-sumber yang
dapat dipercaya. Sedangkan Heraklitos berpendapat bahwa tidak ada yang berubah
kecuali perubahan itu sendiri, sebuah antitesis dari tesis Permendedes
sebelumnya yang berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang berubah.
Filsafat modern mulai berkembang
pada Abad 16 – 17. Sedikit menyinggung mengenai objek filsafat, akan
terbagi kedalam dua kubu besar yakni (1) obyek di dalam kita yang
selanjutnya melahirkan idealism dan (2) obyek di luar kita yang
selanjutnya melahirkan realism. Dari situlah muncul dua kubu besar yaitu Kubu
Ideal yang dipelopori oleh Plato dan Kubu Empiris yang dipelopori oleh Aristoteles.
Plato berpendapat bahwa objek adalah ada di dalam pikiran kita, sedangkan yang
diluar pikiran kita adalah contoh-contohnya. Menurut dia, kebenaran adalah ada
dalam pikiran kita, sedangkan yang ada di luar selalu berubah. Tidak ada
pengetahuan tanpa akal yang sehat. Pendapat ini didukung oleh Rene Descartes.
Filsafat Rene juga dkenal dengan
Skeptisism, bahwa semua diawalai dengan meragukan, tidak ada yang pasti di
duani ini melainkan hanya satu yaitu
“aku yang sedang mencari kepastian”, “aku ada karena aku meragukan” , dan “aku
ada karena aku berpikier. Sebaliknya menurut Aristoteles, justru pengetahuan
ada di luar pikiran kita dan terbentuk dari pengalaman-pengalaman. Pendapat ini didukung oleh david.
Perselisihan antara dua kubu tersebut kemudian ditengahi oleh tokoh
bernama Emanuel Kant (1724) yang melahirkan teori Sintetik Apripori yang
mengkombinasikan antara ideal dan empiris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar