Minggu, 05 Agustus 2012

(MASIH TENTANG) MEMAHAMI FILSAFAT

(Refleksi Pertemuan ke-3 Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Dr. Marsigit)


Perkuliahan ketiga mata kuliah filsafat ilmu dilaksanakan pada hari senin tanggal 30 Juli 2012. Sebenarnya dari hasil pertemuan pertama maupun kedua, mahasiswa sudah mulai akrab dengan istilah filsafat. Mulai muncul paradigma baru dalam memikirkan kehidupan. Namun justru berawal dari situlah banyak pertanyaan-pertanyaan muncul yang cukup mendasar. Ada yang masih dibingungkan (termasuk penulis) tentang hakikat filsafat, tentang cara mempelajarinya, maupun tentang kaitannya dengan berbagai disiplin ilmu dan dimensi kehidupan.

Pada awal refleksi ini, saya ingin mengulas kembali apa yang disampaikan Dr. Marsigit tentang hakikat filsafat yang tidak lain sebenarnya adalah “diri kita sendiri”. Ketika kita sulit memahami tentang filsafat, maka sebenarnya kita sedang mengalami kesulitan dalam memahami diri sendiri. Manusia seringkali sulit untuk melihat dirinya karena ego manusia itu sendiri. Ego pada hakikatnya adalah reduksi dari sifat seseorang. Sifat dari manusia sangat banyak dan tidak bisa kita hitung. Sifat-sifat itu yang biasanya kita gunakan untuk mendefinisikan diri kita dengan salah satu atau beberapa sifat kita. Contohnya, saya menyebut diri saya sebagai seorang suami, atau saya adalah orang yang sabar, dan sebagainya. Jadi ego kita adalah reduksi menuju sifat tertentu yang kemudian dipersempit sehingga bersifat parsial. Itulah keterbatasan manusia.


Kita dapat mengatakan bahwa belajar filsafat adalah belajar tentang diri sendiri. Ketika seseorang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan filsafat, maka sebenar-benarnya adalah dia sedang berfilsafat. Karena kalau direfleksikan, setiap orang memiliki unsur-unsur filsafat. Filsafat disini adalah dalam arti luas sesuai hakikatnya. Sedangkan ilmu filsafat itu tidak lain hanyalah epistemologi dalam belajar filsafat. Oleh karena itu belajar filsafat dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Jadi, sekarang tidak perlu lagi kita tanyakan kapan kita harus belajar filsafat? Lebih dulu mana antara belajar filsafat dan ilmu-ilmu yang lain? Kita bisa menjawabnya dengan penjelasan di atas.

Selanjutnya, ternyata penjelasan tersebut belum cukup (dan mungkin tidak akan pernah cukup) untuk mengatasi kebingungan (baca: dilema, kontradiksi, antinomi, atau apapun istilahnya) saya tentang berbagai tesis yang saya dengar dari Bapak Marsigit. Saya masih ingat dengan pernyataan beliau pada pertemuan pertama dulu bahwa kalau pada ilmu selain filsafat biasanya semakin dipelajari, kebingunan kita akan berubah menjadi sebentuk pemahaman, akan tetapi ketika kita belajar filsafat, justru sebaliknya, yang awalnya jelas menjadi tidak jelas, yang awalnya tidak bingung menjadi bingung. Jadi apakah sekarang kita sedang berupaya menggapai kebingungan dengan berfilsafat? Akan tetapi setelah saya pikir-pikir lagi, salah besar kalau kita berpikir demikian. Karena salah satu tujuan hidup kita adalah untuk mencari jawaban. Jawaban tentang hakikat, jawaban tentang untuk apa kita diciptakan, dan sebagainya. Maka sebenar-benar filsafat adalah hasil dari refleksi kita tentang diri dan sekitar kita, bahkan yang terlihat sepele. Justru dari pertanyaan yang sepele itulah yang akan mengantarkan kita pada jawaban-jawaban yang hakiki.

Seringkali dalam mencari jawaban tersebut kita dihadapkan pada kontradiksi. Maka mari kita ingat bahwa salah satu adab berfilsafat adalah menjadikan spriritual sebagai komandan, sehingga arah berpikir kita tidak akan keliru (baca:menyimpang). Oleh karena itu agar tidak tersesat perlu diimbangi dengan berdoa, berdoa ketika sedang bekerja, ketika sedang berjalan, dan akhirnya setiap aktivitas kita adalah doa.

Terakhir, ada yang perlu kita waspadai, yakni berbagai penyakit filsafat. Banyak pelajaran yang dapat diambil ketika membaca elegi jebakan filsafat. Dan penyakit terbesar dalam filsafat adalah kesombongan. Karena sombong hanyalah hak Allah swt semata. Sombong adalah baju Allah swt, sombong adalah selendang Allah swt. Sangat tidak layak bagi kita untuk mengenakan selendang Allah swt. Na’udzubillah min dzalik, astaghfirullahal ‘aʑim.
Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar