(Refleksi
Pertemuan ke-3 Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Dr. Marsigit)
Perkuliahan
ketiga mata kuliah filsafat ilmu dilaksanakan pada hari senin tanggal 30 Juli
2012. Sebenarnya dari hasil pertemuan pertama maupun kedua, mahasiswa sudah
mulai akrab dengan istilah filsafat. Mulai muncul paradigma baru dalam
memikirkan kehidupan. Namun justru berawal dari situlah banyak
pertanyaan-pertanyaan muncul yang cukup mendasar. Ada yang masih dibingungkan
(termasuk penulis) tentang hakikat filsafat, tentang cara mempelajarinya,
maupun tentang kaitannya dengan berbagai disiplin ilmu dan dimensi kehidupan.
Pada
awal refleksi ini, saya ingin mengulas kembali apa yang disampaikan Dr.
Marsigit tentang hakikat filsafat yang tidak lain sebenarnya adalah “diri kita
sendiri”. Ketika kita sulit memahami tentang filsafat, maka sebenarnya kita
sedang mengalami kesulitan dalam memahami diri sendiri. Manusia seringkali
sulit untuk melihat dirinya karena ego manusia itu sendiri. Ego pada hakikatnya
adalah reduksi dari sifat seseorang. Sifat dari manusia sangat banyak dan tidak
bisa kita hitung. Sifat-sifat itu yang biasanya kita gunakan untuk
mendefinisikan diri kita dengan salah satu atau beberapa sifat kita. Contohnya,
saya menyebut diri saya sebagai seorang suami, atau saya adalah orang yang
sabar, dan sebagainya. Jadi ego kita adalah reduksi menuju sifat tertentu yang
kemudian dipersempit sehingga bersifat parsial. Itulah keterbatasan manusia.