Sabtu, 15 September 2012

DIMENSI PIKIRAN DALAM FILSAFAT

(Refleksi Pertemuan ke-6 Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Dr. Marsigit, M.A)



Tulisan ini adalah hasil refleksi perkuliahan keenam mata kuliah filsafat ilmu yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 10 September 2012. Setelah beberapa kali mengikuti perkuliahan (disamping juga hasil kajian terhadap elegi yang ditulis oleh Dr. Marsigit, MA di blog setiap pekannya), semakin banyak pertanyaan yang muncul dari para mahasiswa terkait dengan filsafat dan aplikasinya.

Salah satu nasehat yang saya ingat dari perkuliahan-perkuliahan sebelumnya adalah bahwa berfilsafat mesti sopan terhadap ruang dan waktu, dalam kerangka spiritual sebagai komandan. Yang demikian adalah agar pikiran kita tidak liar dan menembus pada ranah ketuhanan yang bukan wilayah pikiran manusia sebagai makhluk. Dari kondisi tersebut, muncul pertanyaan apakah mungkin kita dapat membatasi pikiran kita agar tidak menyimpang dari jalurnya. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan pembuka dalam perkuliahan kali ini.


Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya cukup sederhana. Bahwa tanpa kita batasi pun, pikiran kita memang sudah terbatas. Contoh paling mudah adalah bahwa Kita tidak bisa memikirkan apa yang orang lain sedang pikirkan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kadang-kadang kita berpikir terlalu tinggi, pikiran kita berkelana dalam berbagai dimensi dan secara tidak sadar kita sudah terjebak dalam kesombongan kita sendiri.

Ketika kita mulai sadar dalam mempelajari filsafat, mungkin kita mulai sadar untuk memahami segala sesuatu dari sisi ontologi/hakikatnya maupun epistemologi/metodenya. Dari sanalah pertanyaan tadi mungkin mulai timbul. Sekali lagi perlu ditekanan bahwa berfilsafat sebenarnya adalah sopan santun terhadap ruang dan waktu. Termasuk yang kita pikirkan dalam memahami segala hal, juga terbatas pada ruang dan waktu. Lebih khusus lagi, setiap sesuatu ada ahlinya masing-masing, seperti ahli filsafat, ahli matematika, dsb, termasuk kita mungkin masuk dalam salah satu bidang tersebut. Kalau kita terapkan, berarti kita mesti sopan santun terhadap bidang ilmu kita. Sebagai guru, jika kita belum mengajar dengan baik, berarti kita belum sopan terhadap bidang ilmu kita, belum sopan terhadap profesi kita. Begitu seterusnya.

Selanjutnya, proses berpikir yang kita lakukan adalah yang membuktikan bahwa kita “ada”. Ya, banyak filsuf yang bertanya tanya tentang ada atau tidak ada, mencari yang ada dan yang mungkin ada. Para filsuf matematika mempelajari apa yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika, para filsuf pendidikan mempelajari apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan. Lantas pertanyaan selanjutnya adalah apakah “ada” dalam filsafat merupakan yang yang tertinggi dan menadi tujuannya?

“Ada” juga berdimensi. Kalau kita tidak mengikuti pikiran yang ada di bumi, maka kita dianggap tidak ada. Oleh karena itu ketika Rene Descartes bermimpi seperti kenyataan (dan bahkan tidak bisa membedakan mimpi dan bukan mimpi) maka muncul istilah cogito ergosum, bahwa dari kita tidak tahu bedanya mimpi dan bukan mimpi. Akan tetapi, satu hal yang bisa kita katakan adalah kenyataan bahwa diri kita yang sedang bertanya itu. Singkatnya, diri kita benar-benar ada karena kita berpikir. Jadi jika kita sebagai guru dalam mengajar belum mengajak siswa untuk berpikir, berarti kita belum menganggap mereka ada.

Demikianlah pembahasan mengenai dimensi pikiran dalam filsafat memang tidak akan pernah habis. Karena filsafat berusaha untuk memahami seluas-luasnya, dan sedalam-dalamnya. Maka mari kita ingat firman Allah SWT :
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk  atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Aali ‘Imraan, 3:191)

Wallahu a’lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar